Kedatuan Luwu: Nilai-Nilai To Accana Luwu
DOI:
https://doi.org/10.47776/MJPRS.002.01.04Kata Kunci:
Datu Etenriawe, nilai, Maccae Ri LuwuAbstrak
Penelitian ini bertujuan mengambarkan nilai To Ciung Maccae Ri Luwu. Penelitian mengunakan metode library research dengan memahami buku terkait To Ciung Maccae Ri Luwu. Datu Luwu bernama Datu Etenriawe (1581-1611), dikenal seorang negarawan dan cendekiawan yang banyak memberikan perhatian terhadap kondisi kedatuan. Dia bernama Tociung. Tociung banyak memberikan ide-ide atau buah pikiran dan pesan-pesan kepada kedatuan/pemerintah yang bertujuan untuk memelihara kelangsungan kerajaan, sehingga kedatuan terhindar dari kehancuran. Persatuan bulat telur dimaknai, bahwa segala masalah yang ada di dalam negara atau negeri dihadapi bersama-sama, baik dalam hal keburukan maupun dalam hal kebaikan. Kemudian persatuan bagaikan bulat beras, dimaknai sebagai suatu persatuan yang bersifat vertikal adalah persatuan antara raja atau pemimpin dengan rakyatnya, sehingga apa yang menjadi kebesaran dari sang raja, akan menjadi kekuatan bagi sang hamba. Intergrasi kedelapan sifat-sifat antara seorang pemimpin dengan masyarakatnya, maka akan membentuk persatuan di dalam masyarakat. Negara atau negeri akan kuat, dan tahan terhadap gangguan dari luar. Kemudian persatuan ada beberapa macam menurut pemikiran Maccae ri Luwu, yaitu “bersatu bagaikan telur ayam, bersatu bulat bagaikan beras, dan bersatu bulat bagaikan buluh bambuâ€.
Unduhan
Referensi
Abidin, A. Zainal. 1999. Kapita Selekta Sejarah Sulawesi Selatan, Ujung Pandang: Hasanuddin University Press.
Choi, Frederick D.S. 1975. Multinational Challenges for Managerial Accountans. Journal of Contempory Business (Autumn):
Edson, Gary, ed. 2005. Museum Ethics, London and New York: Taylor and Francis e-Library.
Fadilah, Ali. 2000. Kedatuan Luwu, Makassar: Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin atas Kerjasama dengan Institut Etnografi Indonesia.
Fauziah. 2001. “Analisis Nilai-Nilai Kehidupan Batara Guru dalam Naskah Mula Tau†dalam Laporan Penelitian Sejarah dan Nilai Tradisional Sulawesi Selatan, Makassar: BKSNT.
Gibson. 2009. Kekuasaan, Raja, Syeikh, dan Ambtenaar, Pengetahuan Simbolik dan Kekusaan Tradisional Makassar 1300-2000, Makassar: Ininnawa.
Hamid, Abu. 2005. Syekh Yusuf Seorang Ulama: Sufi dan Pejuang, Jakarta: Obor,
Hofstede, G., 1987. The Culture’s Context of Accounting: In Berry E Cushing (ed). Accounting and Culture, Sarasota: American Accounting Association.
Ibrahim, Sulesana Anwar. 2003.Kumpulan Esai tentang Demokrasi dan Kearifan Lokal, Makassar: Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin.
Iriani. 2011.Tari Pajaga Bone Balla Sebagai Cermin Budaya Luwu, Makassar: Dian Istana.
Kern, R.A., I Lagaligo. 1991. ter. La Side dan Sagimun MD (Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Kusuma, Andi Ima. 2006. “Sistem Perkawinan Adat Luwu yang Relevan dalam Transformasi Kebudayaan Nasional†dalam Iwan Sumantri (ed.), Kedatuan Luwu Persfektif Arkeologi,
Sejarah dan Antropologi, edisi ke 2, T.t: Jendela Dunia.
Leirissa, R.Z. 1993. Sejarah Nasional Indonesia IV, Jakarta: Balai Pustaka,
Mahzar. 1983. Integralisme Bandung: Penerbit Pustaka Perpustakaan Salman ITB.
Marala, A. Karim Daeng. 1951. Demokrasi Sesudah Sawerigading Makassar: Departemen Pendidikan dan kebudayaan.
Mattulada. 1998. Sejarah Masyarakat dan kebudayaan Sulawesi Selatan, Ujungpandang: Hasanuddin University Press.
Mattulada. 1995. Latoa: Suatu Lukisan Analisi Antropologi Politik Orang Bugis, Ujungpandang: Hasanuddin University Press.
Mattulada. 1983. Islam di Sulawesi Selatan†dalam Agama dan Perubahan Sosial, ed. Taufik Abdullah, Jakarta: CV. Rajawali.
Mulyono, Hadi dan Abd Muthalib. 1979. Sejarah Kuno Sulawesi-Selatan, Ujungpandang: Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi-Selatan.
Parera, M.H.B. 1989.Towards a Framework to Analyze the Impact of Culture on Accounting. The International Journal of Accounting 24 (1).
Patmawati. 2016. Peranan Nilai Philosofi Bugis terhadap Proses Pengislaman Kerajaan Bugis Makassar di Sulawesi Selatan, Jurnal Khatulistiwa, Journal of Islamic Studies Volume 6 Nomor 2 September.
Pigeaud, Th. G. 1960.Java in the Fouteenth Century, A Study in Cultural History. Vol. III; The Hague: Martinus Nijhoff.
Rahman, Nurhayati. 2003. “Pendahuluan†dalam La Galigo Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia. Makassar: Pusat Studi La Galigo Unhas.
Salle, Aminuddin, J Bostan Dg Maja, dan Supriadi Hamdat. 2010. Rekaman awal Kepemimpinan Elit Lokal Karaeng Galesong.
Schreuder, Hein. 1987. Accounting Research, Practice and Culture: A European Perspective, in Barry E. Cushing (ed). Accounting and Culture. Sarasota, FL: American Accounting Association:
Setiadi dkk. 2011. Pengantar Sosiologi, Jakarta: Kencana.
Sartini. 2004. Menggali Kearifan Lokal Nusantara: Sebuah Kajian Filsafat, Jurnal Filsafat, Agustus, Jilid 37, Nomor 2.
Sitanggang, Filasafat dan Etika Pemerintahan, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1998.
Slametmuljana, RB. 1967. Perundang-undangan Majapahit. Jakarta: Bharata.
Slamet Muljono. 1965. Menudju Poentjak Kemenangan Sedjarah Keradjaan Majapahit, Jakarta: Balai Pustaka,
Triyuwono, Iwan. 2000.Organisasi dan Akuntansi Syari’ah, Yogyakarta: LKiS.
Yamin, Muhammad. 1948. Gadjah Mada Pahlawan Poersatuan Noesantara. Jakarta: Balai Pustaka.
Yunus, Y., 2020. NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM PERIODE TOMANURUNG. Mimbar Agama Budaya, pp. 29-42.
